Tampilkan postingan dengan label ritual. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ritual. Tampilkan semua postingan

Ritual Mencongkel Mata Khwaja Chishti Moinuddina Yang Mengerikan Di India

. Minggu, 22 Desember 2013
0 komentar

12 Jan 2013
(jelajahunik) Satu lagi festival ritual unik yang di lakukan di India, ritual tersebut bernama Khwaja Chishti Moinuddina. Namanya festival tentunya di hadiri oleh ramai orang, yang unik dari ritual ini adalah para peserta menusuk matanya pada bahagian atas dengan benda runcing atau benda tajam hingga matanya melotot seperti hendak keluar.

Saya tidak mengetahui tujuan dari ritual ini apa? Pastinya festival ini di hadiri banyak peserta dan melakukan hal yang sama.









 
sumber 
Read More..

Made Snana Ritual Menjijikan Di India

. Senin, 02 Desember 2013
0 komentar
Ada sebuah tradisi yang sangat aneh di India tradisi ini dikenal sebagai Madey Snana yakni tradisi berguling guling dibekas ludah kasta brahmana yag dilakukan oleh kasta terendah yakni kaum Dalit. Bagi sebagian orang air ludah merupakan hal yang menjijikan dan kotor namun tidak bagi sebagian orang di India terutama kaum  Dalit yang merupakan kasta terendah.


Kaum dalit memeprcayai jika mereka berguling guling di bekas ludah kasta Brahmana maka mereka akan mendapatkan keberkahan dan bisa menyembuhkan berbagai masalah kesehatan. Tradisi berguling diatas bekas ludah kaum Brahmana ini dikenal sebagai tradisi Made Snana yang sudah ada sejak 4000 tahun silam. Tradisi Medey ini biasa dilakukan setiap tahunya di sebuah kuil di India yakni kuil Kukke Subramanya, di pesisir Mangalore pada preyaan Festival Champa Shasti atau Subramanya Shasti.

Setiap tahunya ketika Champa Shasti atau Subramanya Shasti sebanyak 5.000 orang akan berguling di atas “ludah” para Brahmana. Tak ada yang berdaya untuk melarang praktek tidak manusiawi tersebut. Bahkan pemerintah sekalipun.


“Saya tidak peduli kasta mana yang berguling di atas ludah para Brahmana. Ini adalah praktek yang menjijikkan dan tidak masuk akal,” kata Menteri Kesejahteraan Sosial India A. Narayanaswamy, sebagaimana dilansir Oddtycentral.

Pemerintah India sendiri tidak mampu mencegah warganya untuk mengikuti ritual yang aneh ini sebab warga masih percaya akan mitos yang ada pada ritual Made Snana ini.

Baca juga Kota Hantu Mengerikan Di Jepang
Read More..

Ritual Memandikan Tengkorak Di Kalimantan

. Kamis, 21 November 2013
0 komentar


Ritual memandikan atau membersihkan tengkorak manusia hasil mengayau oleh nenek moyang ini, dilakukan oleh suku Dayak Bidayuh. Suku ini merupakan salah satu sub-suku Dayak di Kampung Sebujit, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Mengayau sendiri adalah memenggal kepala manusia, yang kemudian tengkoraknya diawetkan. Sekarang, tradisi mengayau sudah tak dilakukan lagi. Upacara membersihkan tengkorak hasil mengayau ini cukup mengharukan, dan berlangsung selama tiga hari. Mulai tanggal 15 hingga 17 Juni.

Kegiatan utamanya yakni, memandikan tengkorak yang tersimpan dalam rumah adat. Sesuai aturan yang dipercaya secara turun temurun. Dimulai menyambut tamu di batas desa. Awalnya, ini dilakukan untuk menyambut anggota kelompok yang datang dari mengayau. Penyambut, mengenakan selempang kain merah dengan hiasan manik-manik dari gigi binatang. Dilengkapi dengan sumpit dan senapan lantak yang dibunyikan, ketika para tamu undangan hendak memasuki batas desa. Sumpit juga diacungkan bersamaan.

Letupan dari senapan lantak tersebut, juga berguna memanggil ruh leluhur sekaligus minta izin bagi pelaksanaan ritual Nyobeng. Lalu, tetua adat melempar anjing ke udara. Dengan mandau, pihak ketua tamu rombongan harus menebasnya. Jika masih hidup, harus dipotong dengan mandau begitu jatuh ke tanah. Prosesi yang sama juga berlaku untuk ayam. Tetua adat melempar telur ayam kepada rombongan tamu. Jika telur tak pecah, maka tamu yang datang dianggap tidak tulus. Sebaliknya, jika pecah, berarti tamu datang dengan ikhlas.

Beras putih dan kuning dilempar sambil membaca mantra. Para gadis lalu menyuguhkan tuak dari pohon niru yang dicampur kulit pohon pakak yang telah dikeringkan. Usai minum, rombongan tamu diantar menuju Rumah Balug, di tengah perkampungan.
Rumah Balug merupakan rumah adat yang berupa rumah panggung dan berbentuk bulat. Untuk memasuki rumah ini, dibuatkan undakan yang terbuat dari bilah pohon. Lebarnya sekira 10 meter dengan tinggi 15 meter dari tanah.

Saat masuk tempat upacara, rombongan diberi percikan air yang telah diberi mantra dengan daun anjuang, yang berfungsi sebagai tolak bala. Tujuannya, agar para tamu terhindar bencana. Ketika memasuki area upacara, para tamu harus menginjak buah kundur yang diletakkan dalam baskom yang lebih dikenal dengan ritual pepasan.

Bersama warga, para tamu kemudian menari tari Mamiamis sambil mengitari rumah adat. Mamiamis, adalah tarian untuk menyambut dan menghormati para pembela tanah leluhur yang baru datang dari mengayau. Sambil diiringi Tetua adat dengan menyanyikan lagu dan membaca mantra-mantra.

Tetua adat naik Rumah Balug. Simlog pun dipukul dan mercon dibunyikan. Tujuannya untuk memanggil arwah leluhur dan juga sebagai tanda dimulainya Upacara Nyobeng. Dilanjutkan dengan makan bersama di Rumah Balug. Lauknya, nasi dengan ikan babi. Toleransi juga tinggi. Bagi muslim, disediakan makanan khusus bukan babi. Habis makan, tamu boleh meninggalkan area rumah adat.

Pilihannya bisa istirahat di rumah penduduk. Saat istirahat, sebagian laki-laki di daerah tersebut menyusuri hutan untuk mencari bambu hutan. Diameternya sekitar sepuluhan centimeter.

Saat bersamaan, setiap rumah membuat sesajian yang dioles dengan darah dari sayap ayam. Darah ayam ini juga dipercikkan ke bagian-bagian rumah dan pekarangan yang dianggap sakral. Setelah itu para keluarga dan para tamu kembali menuju rumah adat. Setelah dapat bambu hutan yang dicari, para pria itu menggotongnya menuju ke rumah adat secara beramai-ramai. Dengan memegang mandau bambu dikitari sambil berbaris.
Mandau yang dibawa merupakan pusaka keluarga. Hiasan pada gagang mandau dibuat dari tulang atau kayu. Hiasan itu juga sebagai lambang makna dan prestasi tertentu dari si pemegang mandau dalam mengayau. Persiapan matang. Ketua adat memberi isyarat memulai kegiatan. Salah seorang maju ke depan sambil membuka mandau dari sarung sambil menebas mandau ke batang bambu.

Dalam sekali tebas, bambu putus. Keberhasilan ini, merupakan pertanda baik, menurut kepercayaan masyarakat. Usai sudah acara potong bambu. Ruh pun dipanggil oleh ketua adat.

Tujuannya untuk menghadirkan dan memohon ijin yang telah melindungi untuk memulai Nyobeng. Tetua adat kemudian, menaiki rumah panggung. Tujuh macam sesajian diletakkan di batas desa nantinya. Kemudian, kotak yang berada di bubungan rumah adat yang di dalamnya tersimpan tengkorak manusia dan kalung dari taring babi hutan, diambil oleh tetua adat dan melumuri tangannya dengan ramuan khusus.

Lalu dioleskannya pada tengkorak yang ada di dalam kotak. Berikutnya ketua adat memotong seekor ayam hinga kepalanya putus. Kepala dan tetesan darah ayam tersebut dioleskan pada tengkorak. Tengkorak dimasukkan lagi pada kotak dan disimpan. Acara dilanjutkan dengan memotong anjing. Darah yang keluar diusapkan pada tiang penyangga rumah adat, rumah-rumahan kecil, dan patung laki-laki dan perempuan yang berada di samping rumah adat dan patung. Rumah-rumahan dan patung-patung tersebut dianggap sebagai asal-usul nenek moyang mereka. Pemotongan anjing dimaksudkan untuk menolak ruh jahat. Sebagian daging anjing yang baru dipotong kemudian dibawa ke atas rumah adat.
sumber
Read More..